Blog

images (14).jpg

Kajian Uqudullujain-Hak-hak Suami Atas Istri 03

Kajian Uqudullujain-Hak-hak Suami Atas Istri 03


Lanjutan firman Allah dalam surat An-nisaa’ :


واللاتي تخافون نشوزهن فعظوهن واهجروهن في المضاجع واضربوهن. فإن أطعنكم فلا تبغ عليهن سبيلا

“Istri² yang kalian takutkan nusyuz (tidak taat)nya maka nasehatilah mereka dan tinggalkan mereka ditempat tidurnya dan pukullah mereka. Maka jika para istri itu sudah taat kepada kalian maka janganlah kalian mencari-cari cara/alasan (untuk memukul mereka).”


Ayat diatas menjelaskan bahwa seorang suami jika mempunyai prasangka atau kekhawatiran akan *nusyuz* nya istri maka suami punya hak (disunnahkan) untuk melakukan beberapa tahapan.

Yang pertama adalah : menasehati dan menakut-nakuti istri tentang adzab Alloh. Dan perlu juga disampaikan kepada istri bahwa nusyuz itu bisa menggugurkan kewajiban nafkah pada dirinya.


Nusyuz itu adalah tidak patuhnya istri kepada suaminya, atau benci istri terhadap suami dan tidak mau merendahnya istri dihadapan suami karena sombong.


Diantara yang perlu disampaikan juga kepada istri adalah sabda Nabi Muhammad SAW :

اذا باتت المرأة هاجرة فراش زوجها لعنتها الملائكة حتى تصبح

[ رواه البخاري و مسلم ]٠

“Apabila seorang istri semalaman meninggalkan kamar tidur suaminya, maka dia dilaknat oleh malaikat hingga pagi hari”


أيما امرأة باتت وزوجها راض عنها دخلت الجنة

[ رواه الترمذي ]٠

“Mana-mana perempuan bermalaman dalam keadaan suaminya ridho padanya maka dia akan masuk surga.”


Dengan mauidzoh atau nasehat tersebut barang kali istri akan mengutarakan alasan kenapa dia berbuat seperti atau dia bisa bertaubat dari apa yang telah dilakukan.

Dan dalam tahapan awal ini (menasehati) suami tidak boleh mendiami/menyendirikan istri dan memukulnya.

Jika tahapan awal ini tidak berefek alais istri masih saja nusyuz, maka suami memberlakukan tahapan yang kedua yaitu : meninggalkan/menyendirikan istri di kamarnya.

Karena secara teori hal itu efektif dalam memberi pelajaran adab kepada istri.

Dan dalam tahapan ini suami tidak boleh memukul dan mendiami istri dari berbicara.

Dan jika tahapan kedua ini masih saja tidak bisa menghentikan nusyuznya istri, maka suami beralih ke level/tahapan yang ketiga, yaitu : memukul istri dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Memukul istri bisa diterapkan jika dirasa pukulan tersebut efektif.

Namun jika dirasa tidak efektif maka memukul tidak ada gunanya dan tidak perlu dilakukan. Dan mengampuni lebih utama daripada memukulnya.

Selain tidak boleh memukul dengan pukulan yang menyakitkan, juga tidak boleh memukul di wajah dan pukulan yang merusak anggota.

Dan ayat diatas juga menjelaskan bahwa seorang suami jika istrinya sudah taat maka suami dilarang mencari-cari alasan (golek² perkoro) untuk memukul atau menyakiti istri. Seperti mengungkit-ungkit kesalahan atau aib masa lalu, yang akhirnya terjadi pertengkaran, pemukulan, dsb.

Justru suami harus bisa menjadikan kesalahan istri yang lalu biarlah berlalu. Anggaplah kesalahan itu tidak pernah ada. 🤝


Wallahu a’lam bish shawab

Comments

No comment yet.

Tulis Komentar