Blog

fathulqorib.jpg

Fathul Qorib Kitab Hukum Bersuci

قال المصنف رحمه الله تعالى


كتاب أحكام الطهارة

Kitab Hukum Bersuci


والكتاب لغة مصدر بمعنى الضم والجمع، واصطلاحاً اسم لجنس من الأحكام، أما الباب فاسم لنوع مما دخل تحت ذلك الجنس، والطهارة بفتح الطاء لغة النظافة، وأما شرعاً ففيها تفاسير كثيرة، منها قولهم فعل ما تستباح به الصلاة، أي من وضوء وغسل وتيمم وإزالة نجاسة، أما الطهارة بالضم فاسم لبقية الماء. ولما كان الماء آلة للطهارة، استطرد المصنف لأنواع المياه فقال


Kitab menurut bahasa berarti mengumpulkan. Sedangkan menurut istilah adalah nama untuk jenis dari beberapa hukum, sedangkan \”Bab\” adalah nama suatu macam dibawah jenis hukum.

Thoharoh dengan difathah tho\’ nya secara bahasa adalah kebersihan, sedangkan terminologi Thoharoh terdapat banyak tafsir antara lain adalah ucapan Ulama yakni :\” melakukan perkara yang menyebabkan diperbolehkannya sholat, yakni wudlu, mandi, tayammum dan penghilangan najis.

Adapun At:Tuharoh dengan dlommah Tho-nya maka itu nama untuk sisa air.

Oleh karena sebab Air adalah alat untuk Bersuci, Maka mushonnif (pengarang;penyusun) menyampaikan macam-macam air, maka beliau berkata :


المياه التي يجوز> أي يصح (التطهير بها سبع مياه ماء السماء) أي النازل منها وهو المطر (وماء البحر) أي الملح (وماء النهر) أي الحلو (وماء البئر وماء العين وماء الثلج وماء البرد) ويجمع هذه السبعة قولك: ما نزل من السماء أو نبع من الأرض على أي صفة كان من أصل الخلقة


Air yang boleh maksudnya sah di gunakan untuk bersuci ada 7: yakni

  1. Air langit(air yang turan dari langit/air hujan)
  2. Air laut(air asin)
  3. Air sungai (air tawar)
  4. Air mata air(air yang keluar dari bumi)
  5. Air salju/air es
  6. Air sumur
  7. Air embun

Ketujuh air tersebut terkumpul dengan ucapanmu \”air yang turun dari langit dan keluar dari bumi sesuai sifat apapun yang ada dari asal terciptanya air tersebut.\”


ثم المياه> تنقسم (على أربعة أقسام)

Kemudian air dibagi menjadi 4 bagian:

أحدها (طاهر)في نفسه (مطهر) لغيره (غير مكروه استعماله، وهو الماء المطلق) عن قيد لازم فلا يضر القيد المنفك، كماء البئر في كونه مطلقاً


1. Air suci mensucikan yang tak dimakruhkan penggunaannya yaitu air yang terlepas dari ikatan tetap maka air yang punya ikatan tidak tetap tidaklah mengapa seperti air sumur dalam kondisi muthlaq (terlepas dari ikatan tetap)


و>الثاني (طاهر مطهر مكروه استعماله) في البدن لا في الثوب(وهو الماء المشمس) أي المسخن بتأثير الشمس فيه، وإنما يكره شرعاً بقُطر حار في إناء منطبع، إلا إناء النقد لصفاء جوهرهما، وإذا برد زالت الكراهة، واختار النووي عدم الكراهة مطلقاً، ويكره أيضاً شديد السخونة والبرودة

2. Air suci mensucikan yang makruh digunakan di badan tidak di pakaian yaitu air yaitu air yang dipanaskan dengan pengaruh matahari. Letak kemakruhannya hanyalah pada wilayah yang panas dan pada wadah yang tercetak selain emas dan perak dikarenakan kemurnian intisarinya dan jika hilang panasnya maka hilang pula kemakruhannya.

Sedangkan imam Nawawi memilih tidak dimakruhkan secara mutlak

Dimakruhkan pula menggunakan air yang sangat panas atau sangat dingin.


و>القسم الثالث (طاهر) في نفسه (غير مطهر) لغيره (وهو الماء المستعمل) في رفع حدث أو إزالة نجس إن لم يتغير، ولم يزد وزنه بعد انفصاله عما كان بعد اعتبار ما يتشرّبه المغسول من الماء. (والمتغير) أي ومن هذا القسم الماء المتغير أحد أوصافه (بما) أي بشيء (خالطه من الطاهرات) تغيراً يمنع إطلاق اسم الماء عليه، فإنه طاهر غير طهور حسيّاً كان التغير أو تقديرياً، كأن اختلط بالماء ما يوافقه في صفاته كماء الورد المنقطع الرائحة، والماء المستعمل فإن لم يمنع إطلاق اسم الماء عليه بأن كان تغيره بالطاهر يسيراً، أو بما يوافق الماء في صفاته وقدر مخالفاً، ولم يغيره فلا يسلب طهوريته، فهو مطهر لغيره، واحترز بقوله خالطه عن الطاهر المجاور له، فإنه باق على طهوريته، ولو كان التغير كثيراً وكذا المتغير بمخالط، لا يستغني الماء عنه كطين وطحلب، وما في مقره وممره، والمتغير بطول المكث فإنه طهور


3.air suci yang tidak bisa menyucikan lainnya. Yaitu air yang telah digunakan untuk mengangkat hadats atau menghilangkan najis jika tak berubah dan tak bertambah dari ukuran sebelumnya setelah terpisah dari benda yang dibasuh sesudah memperhitungkan air yang terserap pada benda tersebut.

Dan air yang berubah, maksudnya, termasuk bagian ketiga ini adalah air yang berubah salah satu sifatnya dengan sebab perkara suci yang mencampurinya dengan perubahan yang mencegah kemutlakannya, maka air tersebut suci yang tidak bisa menyucikan lainnya baik perubahanya nampak atau perkiraan, seperti air yang di bercampur dengan sesuatu yang sama sifat contohnya air mawar yang sudah tak berbau dan air musta\’mal. Kemudian jika perubahannya tidak mencegah kemutlakan air seperti perubahan sedikit yang disebabkan perkara suci atau disebabkan perkara yang sama sifat dengan air dan sudah diperkirakan dengan yang beda sifat dan ternyata tidak merubah air maka hal itu tidaklah merusak fungsi penyucian air tersebut, maka air tersebut tetap bisa menyucikan pada lainnya.

Dikecualikan oleh ucapan mushonnif matan \”خالطه\” (yang mencampuri) adalah perkara suci yang mujawair (tak bercampur dengan air ) maka air tetap berstatus suci dan menyucikan dengan adanya mujawir yang suci walau perubahannya banyak, begitu juga tetap suci menyucikan ketika tercampur dengan sesuatu yang selalu tak bisa dihindarkan seperti lumpur dan ganggang, begitu juga ketika tercampur dengan sesuatu yang berada pada tempat berdiamnya air dan dan juga pada tempat mengalirnya.

Sedangkan air yang berubah karena lamanya waktu dia berada, maka sesungguhnya air itu tetap suci menyucikan


و>القسم الرابع (ماء نجس) أي متنجس وهو قسمان أحدهما قليل (وهو الذي حلت فيه نجاسة) تغير أم لا (وهو) أي والحال أنه ماء (دون القلتين) ويستثنى من هذا القسم الميتة التي لا دم لها سائلة عند قتلها، أو شق عضو منها كالذباب إن لم تطرح فيه، ولم تغيره، وكذا النجاسة التي لا يدركها الطرف، فكل منهما لا ينجس المائع ويستثنى أيضاً صور مذكورة في المبسوطات، وأشار للقسم الثاني من القسم الرابع بقوله: (أو كان) كثيراً (قلتين) فأكثر (فتغير)يسيراً أو كثيراً


4. Air najis maksudnya air yang terkena najis (mutanajjis) . Air mutajjis ada dua bagian :

Pertama, Air yang terkena najis walaupun tidak berubah yaitu air yang kurang dari dua qulah; dikecualikan dari bagian ini adalah bangkai yang tak memiliki darah mengalir ketika membunuhnya atau merobek bagian tubuhnya seperti lalat jika dijatuhkan dan air tersebut juga tidak berubah, begitu juga dengan najasah (perkara najis) yang tak mampu diindra oleh mata maka keduanya tidak bisa menajiskan perkara cair.Begitu juga dikecualikan mengenai beberapa gambaran yang yang dituturkan dalam kitab yang lebih luas.

Kemudian kiyai Mushonnif memberi isyaroh pada bagian kedua dari air bagian air yang nomor empat dengan tutur beliau \”Atau (kedua) Air itu banyak dua qullah atau lebih dan berubah berubah, baik perubahan itu banyak maupun sedikit\”


والقلتان خمسمائة رطل بغدادي تقريباً في الأصح>فيهما والرطل البغدادي عند النووي مائة وثمانية وعشرون درهماً وأربعة أسباع درهم، وترك المصنف قسماً خامساً وهو الماء المطهر الحرام كالوضوء بماء مغصوب أو مسبل للشرب


Dalam Qoul ashoh, Dua kolah menurut ukuran baghdad sekitar 500 kathi, sedangkan menurut imam nawawi adalah 180 dirham dan 4/7 dirham.

Dan Mushonnif meninggalkan bagian air yang nomor lima, yakni Air menyucikan yang diharamkan penggunaannya. Seperti berwudlu menggunakan air yang digasap (memakai tanpa ijin) atau air yang di sediakan untuk minum.


Tambahan dri keterangan lain


Dua Qulah dalam Ukuran Liter

Ulama berbeda pendapat tentang ukuran 2 qulah dalam ukuran liter. Rinciannya sbb:

Menurut Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam Al-Fiqhul Islami Wa Adillatuhu (الفقه الإسلامي وأدلته) air dua qullah (qulah/ kulah) sama dengan 270 liter.
2 kulah sekitar 160.5 liter (Dalam kitab Al-Fiqh Al-Muyassar)
2 qulah sekitar 210 liter (kitab Tafsir Al-Ashr Al-Akhir)
2 qullah sekitar 203,125 liter.
2 qulah sama dengan 217,11 (Najmuddin Al-Kurdi.
2 qulah sama dengan 160,5 liter (Abdullah Al Faqih dalam islamweb.net)

Comments

Comments are closed.