Blog

FlyerMaker_23102020_045822_9939.png

(yang) Santri

(Yang) Santri


Oleh : Azro Chalim B.Sc

( Mahasiswa S2 Univ. Al-Ahgaff Yaman)


Tidak benar jika seorang santri selalu disebut kolot dan ketinggalan zaman. Mereka justru berfikir jauh lebih ke depan dibanding dengan anak seusianya yang bukan santri. Masa muda santri dioptimalkan untuk berkecimpung dengan dunia ilmu dan ibadah, yang artinya ia mampu mensinergikan antara ilmu intelektual dan ilmu spiritual.

Pun antara ilmu umum dan ilmu syariah. Jika pelajar di luar sana hanya mempelajari pendidikan umum, maka seorang santri di pesantren mempelajari kedua-keduanya, yakni mendalami ilmu syariah di madrasah diniyah tanpa meninggalkan pendidikan umum di sekolah. Kehidupan santri di pesantren pun juga mempunyai nilai plus didukung dengan lingkungan yang tidak mudah terpengaruh oleh alur zaman yang mulai edan.

Memang, santri jangan sampai terpengaruh alur zaman yang mulai tak karuan ini, tapi santri juga tidak boleh sampai ketinggalan dari kemajuan era digital. Karena ketika terjun ke masyarakat nanti untuk menyampaikan ilmunya santri butuh up to date dengan media dakwah yang ada. Bisa dakwah melalui radio, tulisan di blog atau media cetak, desain gambar inspiratif sampai video vlog di Youtube atau lainnya.
Kata “santri” dalam bahasa Arab disebut thullabul ilmi yang bermakna para pencari ilmu. Artinya, seorang santri harus selalu berusaha meluaskan wawasan keilmuannya.

Rasa keingintahuan seorang santri harus tinggi. Dalam aspek apapun, santri harus berfikir kritis dan terus cari tahu. Karena seorang pencari ilmu sejati tak akan pernah merasa kenyang dengan keilmuannya. Semakin ia mendapatkan ilmu, semakin tambah pula kehausannya dalam mencari ilmu yang lain. Dan seorang pemuda yang berkualitas adalah pemuda yang kesehariannya penuh dengan hal-hal yang berkaitan dengan keilmuan dan ketakwaan.
Imam As-Syafi’i r.a berkata dalam baitnya :


وَذَاتُ الفَتَى وَاللّهِ بِالعِلمِ وَالتُقَى إذَا لَم يَكونا لا اعتِبَارَ لِذاتِهِ


Demi Allah, kualitas seorang pemuda dinilai dari keilmuan dan ketakwaannya jika ia tidak memiliki keduanya, maka tak ada nilai baginya.

Ambil contoh Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari. Penulis kitab Fathul Wahab dan Ghayatul Wushul yang amat fenomenal ini juga termasuk ulama yang menguasai berbagai bidang ilmu. Hampir semua sanad ilmu Qiraah Sab’ah yang ada pada zaman ini melalui jalur Syaikhul Islam Zakariya. Ia juga sangat produktif dalam dunia kepenulisan. Tidak hanya karya seputar ilmu Fiqih, Ushul Fiqih, Tafsir, Hadits dan Tasawuf saja, tapi juga produktif dalam menulis karya-karya buku keilmuan sains yang bersifat exact seperti ilmu logika, matematika, kedokteran sampai ilmu teknik.

Juga seperti Imam Al-Khawarizmy, yakni seorang “santri” cendekiawan yang berhasil mengenalkan Aljabar untuk memecahkan sebuah masalah pembagian harta waris dalam ilmu Faraid. Cendekiawan muslim yang juga penemu angka nol ini tentu sangat berjasa besar bagi dunia pendidikan. Bayangkan saja, jika dunia sampai sekarang ini belum mengenal angka nol, mungkin angka-angka romawi yang berentetan dan tidak memiliki angka nol itu sampai era modern ini masih tetap digunakan, dan yang pasti sangat rumit dan berbelit-belit.

Ibnu Sina, di dunia Barat terkenal dengan nama Avicenna, ulama yang sejak usia 10 tahun telah hafal Alquran ini juga menyumbangkan buku induk kedokteran pada dunia sains modern, dengan karya fenomenalnya yang berjudul the Canon of Medicine yang banyak diajarkan di kampus-kampus kedokteran Barat selama lebih dari 5 abad. Dan oleh para ilmuan Barat, Avicenna diberi gelar kehormatan sebagai “Bapak Kedokteran Modern”.
Juga Al-Hazen. Ulama cendekiawan ini juga telah memberikan kontribusi besar pada dunia. Ia berhasil menemukan teori optik yang mematahkan teori fungsi retina yang pernah dipaparkan oleh para ilmuwan Yunani kuno seperti Aristoteles dan Ptolemaeus. Rumus cara fungsi kamera modern yang ada di ponsel kita pun merupakan perkembangan dari teori Qamrah yang dikenalkan oleh Al-Hazen. Dan bisa dikata, semua orang yang memakai kacamata silinder di dunia ini mempunyai hutang budi kepada cendekiawan muslim yang dijuluki sebagai “Bapak Optik” ini.

Sejarah brilian para ulama cendekiawan tersebut mengajarkan kita bahwa seorang santri semestinya tidak sebatas membaca literatur ilmu syariah saja, tapi baca juga buku-buku sains, kedokteran, psikologi, teknik dan ilmu lainnya. Sebab dengan memperluas wawasan sains, kita akan semakin memahami keajaiban dan kemukjizatan syariat islam dengan terang benderang. Karena Islam adalah agama sempurna yang sangat ilmiah.
Setelah membaca sudah menjadi budaya, lalu lanjutkan dengan belajar menulis. Agar gagasan yang ada di fikiran kita bisa tertuang menjadi sebuah karya. Jangan sampai keahlian menulis dalam umat ini hanya dikuasai oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang ingin menghancurkan ajaran islam. Orang bijak mengatakan, tidak ada kebaikan pada sebuah umat jika kemampuan menulisnya hanya ada di tangan orang-orang munafiknya.

So, santri harus mempunyai keahlian menulis sebagai salah satu sarana aktualisasi jihad di era digital ini.
Pepatah arab mengatakan :


الخَطّ يَبقَى زَمَناً بَعدَ كاتِبِه وَكاتِبُ الخَطّ تَحتَ الأَرضِ مَدفُونُ


Sebuah tulisan akan hidup lebih lama daripada penulisnya sedangkan penulisnya sendiri telah dikuburkan di bawah tanah.

Sementara dalam dunia karir, santri tidak harus semuanya menjadi seorang kyai yang memiliki pesantren. Karena yang paling penting adalah jiwa, identitas dan etika kesantrian harus selalu tertancap kuat dalam hati dan sikap kita.

Jika kita seorang mahasiswa, maka jadilah mahasiswa yang santri, bukan sekedar santri yang mahasiswa. Jika nantinya kita menjadi politikus, jadilah politikus yang santri, bukan sekedar santri yang politikus. Intinya, menjadi businessman, cendekiawan, insinyur, sastrawan, budayawan dan apapun profesinya, “yang santri” harus selalu terikat kuat.

Dan dalam hal finansial, seorang santri seharusnya tidak perlu takut akan miskin harta, karena rezeki Allah itu bermacam-macam. Memang benar harta kekayaan adalah rezeki Allah, tapi rezeki Allah berupa ilmu pengetahuan itu jauh lebih spesial daripada sekedar rezeki harta duniawi saja.


Allah Swt berfirman :
يُؤتِي الحِكمَةَ مَن يَشَاءُ وَمَن يُؤتَ الحِكمَةَ فَقَد أُوتِيَ خَيرًا كَثِيرًا [البقرة : 269]


Allah memberikan hikmah kepada orang yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang diberi hikmah (ilmu pengetahuan) maka ia telah diberi suatu kebaikan yang banyak. [Arti Al-Hikmah : ilmu pengetahuan – Tafsir Ar-Razi Al-Baqarah 269]
Banggalah menjadi seorang santri yang mempunyai wawasan pengetahuan yang luas. Pengetahuan yang tidak melulu soal duniawi saja, tapi juga soal masa depan di kehidupan yang abadi. Mereka yang hanya bisa membanggakan dan menyombongkan harta duniawinya saja, adalah mereka yang terkena penyakit kebodohan akut. Karena sejatinya, tidak ada kebanggaan dengan harta duniawi. Kebanggaan sejati adalah kebanggaan dengan ilmu pengetahuan, tatakrama dan ketakwaan.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a berkata dalam penggalan syairnya :


رَضِينا قِسمَةَ الجَبّارِ فِينَا * لَنا عِلمٌ وَلِلجُهّالِ مَالُ


Aku rela dengan pembagian Allah kepadaku aku mendapatkan jatah ilmu, dan orang-orang bodoh mendapatkan jatah harta.

Semoga kita semua selalu menjadi santri sejati yang “ngikut para kyai, ngaji tiada henti, bangga menjadi santri sampai mati”.

Wallahu a’lam.

/ Mutiara Islam / Tags:

Comments

No comment yet.

Tulis Komentar