Blog

Tujuh Konci Terbukanya Pikiran

☘7 Kunci Terbukanya Pikiran dari Doktor Alawi al Idrus☘


Sebelum mengakhiri kunjungan dakwahnya di Indonesia Dosen Universitas al Ahgaff Yaman Dr. Alawi Abdul Qodir al Idrus Jumat kemarin mengunjungi pesantren Asshiddiqiyah 10, Puncak, Cianjur.

Dalam kesempatan itupula beliau memberi nasihat-nasihat penting kepada para santri disana, ada 7 hal penting yang beliau kemukakan, dalam mencapai futuh atau terbukanya ilmu bagi penuntut ilmu khususnya para santri.

Sebelum memulai nasihatnya, beliau mengutip sebuah firman Allah swt yang mengucapkan:


…يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ


“…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujâdilah: 11)

Pada ayat ini, Allah swt menjanjikan kedudukan yang tinggi, yang lebih mulia di sisiNya, bagi orang-orang yang beriman dan yang memiliki ilmu. Dan orang-orang yang memiliki ilmu atau الذين أوتوا العلم yang dimaksud dalam ayat ini, menurut beliau, adalah orang-orang yang berilmu dan mengamalkan ilmu mereka. Dan sebab hal itu pula, mereka memiliki rasa takut yang sebenarnya kepada Allah swt.

Sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah swt lainnya:


…إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ…


“…Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fâthir: 28)

Sebaik-baiknya ilmu yang patut untuk dipelajari adalah ilmu yang diajarkan di dalamnya hukum-hukum Allah swt, yaitu ilmu fiqh. Ilmu ini adalah ilmu penting yang harus dipelajari oleh umat islam. Karena hanya dengan ilmu ini kita bisa mengetahui bagaimana caranya menunaikan kewajiban-kewajiban sebagai orang Islam, bagaimana cara shalat yang benar, cara membayar zakat yang benar, apakah shalat yang kita kerjakan sudah sah atau belum, haji kita, puasa kita, dan ibadah-ibadah wajib lainnya. Oleh sebab itu Nabi Muhammad saw bersabda:


ومن يرد الله به خيرا يفقهه في الدين


“Dan barangsiapa yang Allah swt kehendaki kepadanya kebaikan, maka akan Allah swt pintarkan ia dalam ilmu agama.” (HR. Bukhari)

Dan ilmu ini adalah satu-satunya warisan dari para Nabi khususnya Nabi Muhammad saw kepada umat-umat beliau. Maka siapa yang mau mengambilnya, maka sungguh ia telah mengambil bagian dari warisan peninggalan Nabi.

Lalu beliau melanjutkan tentang langkah atau hal yang perlu diperhatikan bagi santri, dalam perjalanan mereka menuntut ilmu, agar senantiasa dibukakan pintu ma’rifah oleh Allah swt:

?Pertama, seorang thalibul ‘ilmi harus benar-benar memanfaatkan waktunya dengan baik dan bisa ber-istifadah sebanyak mungkin dari waktu yang dia lewati. Jangan sampai dalam perjalanan menuntut ilmu, seorang murid malah mudah menyia-nyiakan waktunya atau menghabiskannya dengan hal yang sia-sia dan tidak manfaat. Beliaupun menceritakan rihlah ‘ilmiyah Imam Syafii, yang kalau diceritakan di sini sangaat panjang sekali. Mungkin sangat lebih baik kalau bisa membaca dari kitab karya beliau langsung?

?Kedua, seorang murid seyogyanya mengikat ilmu mereka dengan menulisnya. Jangan sampai menghadiri majlis ilmu tanpa membawa buku dan pulpen, atau tidak mencatatnya. Dan menurut beliau itu adalah hal yang sangat buruk apabila dilakukan oleh seorang murid (menghadiri majlis ilmu dan tidak membawa buku atau tidak mencatatnya). Dawuh beliau:


من حضر مجلس العلم بلا كتاب فهو كشخص دخل الحرب بلا سلاح


“Barangsiapa yang menghadiri ilmu tanpa membawa buku, maka ia bagaikan orang yang pergi perang tanpa membawa senjata.”

Dikatakan juga bahwa ilmu itu tidak cukup hanya dihafal, kaena hafalan akan mudah hilang. Maka hendaknya ia pun ditulis. Sebagaimana kalam ulama’ yang mengatakan:


إن ما حفظ فر وما كتب قر


“Sesungguhnya sesuatu yang dihafal itu akan lari dan sesuatu yang ditulis akan tetap.”?

?Ketiga, seorang murid harus senantiasa bersabar untuk segala yang dihadapi saat proses mencari ilmu. Segala kekurangan, kesulitan, keterbatasan, itu semua adalah bagian dari perjuangan dan kesungguhan sebagai bentuk kontribusi kita terhadap ilmu itu sendiri. Dan saat belajar pula, pesan beliau, jangan sampai gampang terbawa dengan keadaan. Artinya saat sedang malas, jangan diikuti. Saat teman-teman di sekitar bersantai-santai, kita tetap harus fokus dalam belajar tersebut.?

?Keempat, seorang murid harus senantiasa mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya. Karena apabila sudah mengetahui tapi tidak mengamalkannya, seperti kita sudah tahu bahwa hukum berbohong itu haram tapi tetap melakukan kebohongan, sudah tahu kalau shalat itu wajib tapi tetap tidak melakukannya, maka orang seperti itu tidak ada bedanya dengan orang bodoh, atau bahkan ia lebih buruk. Karena orang yang mengetahui tapi tidak mengamalkan, lebih dekat kepada siksa Allah swt daripada orang bodoh. Dan buah dari ilmu itu sendiri adalah amal.

Jadi sudah seharusnya setelah mengetahui kita mengamalkannya agar bisa mengambil manfaat dari ilmu itu sendiri. Sebagaimana yag disebutkan dalam sebuah maqalah arab:


العلم بلا عمل كشجرة بلا ثمر


“Ilmu tanpa amal adalah bagaikan pohon tanpa buah.”?

?Kelima, seorang penuntut ilmu hendaknya memiliki adab yang tinggi kepada ilmu itu sendiri. Bagaimana cara beradab yang baik terhadap ilmu? Contohnya adalah seperti tidak berbicara di tengah majlis ilmu, tidak bercanda, tidak tertawa, mencatat ilmu yang didengarkan, dan mengamalkan ilmu itu juga termasuk dalam adab terhadap ilmu.?

?Keenam, beradab yang baik terhadap ahli ilmu atau guru. Karena beliau merupakan sebab seseorang dalam menghasilkan ilmu. Allah swt menjadikan guru sebagai perantara seorang murid dalam mendapatkan ilmu. Maka jangan sampai tidak memperhatikan adab kepada para guru dan juga ulama.
Banyak kisah-kisah panutan mulai dari zaman sahabat Nabi sampai ulama salaf yang terkenal dengan kehormatan dan ta’dzim yang tinggi kepada guru beliau. Salah satunya adala kisah Imam Syafii yang tidak berani membalik kertas saat sedang muhadharah dengan guru beliau, Imam Malik, karena takut itu akan mengganggu beliau. Setelah itu, murid-murid Imam Syafii pun tidak kalah ta’dzim kepada beliau. Salah satu murid diceritakan, tidak berani minum apabila Imam Syafii sedang melihatnya.
Subhaanallaah… yang seperti inilah tentunya yang kita rindukan dalam muamalah sehari-hari seorang murid dengan gurunya. Semoga generasi-generasi muda kini bisa menjaga luhur adab seorang murid kepada gurunya dan para ulama.?

?Terakhir, yang tidak boleh dilupakan, adalah terus berdoa kepada Allah swt. Pesan beliau, setelah melakukan segala asbab atau sebab-sebab dalam mendapatkan ilmu, hal yang tidak boleh dilupakan adalah berdoa, memohon kepada مسبِّب الأسباب Dzat Yang memiliki sebab-sebab tersebut, yaitu Allah swt.?

Akhirnya, catatan ini adalah ikhitar saya dalam mengamalkan bahwa ilmu yang kamu ketahui hendaknya ditulis. Kemudian apa yang telah ditulis dihafalkan lalu diamalkan, langkah tersebut akan mempercepat transfer ilmu kita ke otak, lalu ke hati, dan akhirnya bisa melahirkan sebuah rasa khasyyah kepada Allah swt. Semoga catatan ini bermanfaat bagi kita semua, khususnya teman-teman yang sedang dalam masa menuntut ilmu.

Allaahummaftah ‘alainâ futûhal ‘ârifîn.. aamiin yaa Rabb.


(Balqis Aziziy, Alumni Mahasiswi Universitas al Ahgaff Yaman)

/ Mutiara Islam / Tags:

Comments

No comment yet.

Tulis Komentar