Blog

Standarisasi Cinta Dalam Diam

STANDARISASI CINTA DALAM DIAM


Oleh: Kang Ahmed (mahasiswa tingkat dua universitas al-Ahgaff)


Mengenai cinta, mungkin manusia tidak akan dapat menafikan satu sifat dan cipta ruhaniah ini dalam diri mereka. Karena setiap manusia terlahir melalui sebuah cinta, yang teraplikasi dalam tradisi suci yang kita sebut pernikahan.

Sejak ruh ditiupkan di ubun-ubun jabang bayi, di situ sudah tertulis jelas nasib cintanya.
Semakin dewasa sikap manusia, makin dewasa pula pola pikir mereka tentang sebuah cinta.

Namun, kita yang hidup dalam koridor syari\’at, tentu masalah cinta seperti ini tak luput dari kacamata syara\’. Bahkan begitu indah syara\’ merealisasikannya dalam kehidupan nyata. Salah satunya adalah cinta dalam diam.

Sebenarnya, dalam islam tak disebutkan nash yang jelas mengenai cinta dalam diam. Lantas apa sih definisi cinta dalam diam?

Cinta adalah bahasa hati yang diaplikasikan oleh tubuh manusia, dan subjeknya merasakan kebahagiaan ketika perasaan ini datang. Dan diam, adalah sebuah keadaan dimana manusia terhenti untuk mengerjakan sesuatu atau mengungkapkannya.

Munculnya istilah \”cinta dalam diam\” ini merupakan satu tindakan yang kongkrit, demi menahan hawa nafsu dari perzinahan. Dan istilah ini diambil dari pemahaman ayat al-Qur\’an surah an-Nur ayat 30-31, bahwa setiap laki-laki maupun perempuan hendaknya menahan dan menjaga pandangan dan kemaluan mereka dari apa-apa yang diharamkan.

Lantas apa hubungannya menahan pandangan dan tidak menyatakan cinta atau diam?
Pernah dengar kalimat \”Dari mata turun ke hati\”?

Ya, sudah lumrah agaknya dewasa ini tentang pacaran dan sebagainya. Faktor utamanya adalah pandangan. Karena mata yang merayu manja nafsu kita, hingga gejolak hati pun terjadi. Antara menuruti nafsu, atau tetap kekeuh sama hati.

Oleh sebab itu, ketika mata kita mulai merajuk nafsu untuk bertindak semakin jauh, Allah memerintahkan kita untuk menundukkan pandangan. Dengan adanya istilah cinta dalam diam yang lantas diaplikasikan secara eksplisit yang mengacu pada ketentuan yang ditetapkan syara\’, sudah tentu ini adalah jalan yang paling efisien bagi para jomblo untuk menjauhi dosa zina selain dengan berpuasa dan menikah.

Karena kata-katanya adalah cinta dan diam. Maka jika tidak tidak ada niatan dan tujuan serius untuk melangkah ke jenjang pernikahan, sebaiknya rasa cinta itu kita pendam sendiri dalam-dalam. Lantas pada malam hari, buka hati dan buka mata, curhatin semua kepada Sang Pemilik Cinta. Kita ceritakan semua perasaan kita sama Allah ta\’ala. Dia yang lebih tau mana yang terbaik buat kita, dan ikhtiar kita adalah menjaga cinta itu agar tetap diam tanpa pernyataan. Selebihnya biarkan takdir yang menjawab.

Dan kisah cinta dalam diam yang sangat fenomenal dalam antologi sejarah islam adalah kisah sayyidina Ali bin Abi Thalib, bagaimana ia memendam rasa cintanya kepada sayyidah Fatimah hingga setan pun tidak tau akan perasannya. Begitu dalam ia menyimpan rasa cinta itu, bahkan kecemburuan pun ikut memburu kala sayyidina Ali mendengar kabar bahwa sayyifah Fatimah hendak dilamar oleh sayyidina Abu Bakar dan Umar bin Khattab Radhiyallahu\’anhum.

Ini hanya satu dari ratusan kisah seorang yang benar-benar mengagungkan syari\’at Tuhannya di atas nafsunya. Dan kita tahu pada akhirnya Allah hadiahkan sayyidah Fatimah untuk sayyidina Ali sebagai balasan ketulusan cintanya yang selalu ia simpan rapat-rapat dalam diam.

Lantas bagaimana cara memotivasi hati agar siap bercinta dalam diam?

Di dalam kitab Nashaih al-Ibaad, Imam Nawawi al-Bantani menceritakan tentang keadaan tujuh golongan ketika di hari kiamat akan mendapat payung teduh dari Allah ta\’ala. Di mana pada hari itu tidak ada peneduh kecuali dari Allah. Dan salah satu dari ketujuh golongan tersebut, satu di antaranya diperuntukkan pada seorang pemuda yang memiliki rasa cinta kepada seorang wanita, namun hingga akhir hidupnya ia tak sempat menyatakan cintanya.

Jelas bagaimana Allah memberi kabar gembira bagi para pengembara cinta dalam diam.
Dan sejatinya, nafsulah yang menggerakkan diri kita untuk mengikutinya, untuk tunduk pada titahnya,agar kita para bibit unggul generasi millenial ini bersedia untuk saling bertukar emot hati dan kata sayang dengan si doi. Hingga gadget jadi korban bedebah yang berjubah cinta dalam diam. Mengaku cinta dalam diam namun barisan gombalan tak luput dari timeline ketika chatting-an.


Semoga Allah melindungi kita dari godaan setan berkedok hijrah.

/ Mutiara Islam / Tags:

Comments

No comment yet.

Tulis Komentar