Blog

Menjadikan Hari Raya Sebagai Momen Berbahagia Dan Muhasabah Diri

الله اكبر الله اكبر الله اكبر لا اله الا الله والله اكبر ولله الحمد


Menjadikan Hari Raya Sebagai Momen Berbahagia dan Muhasabah Diri


Oleh: Musthofa Al-Muhdhor (Alumnus Univ. al Ahgaff)


Sesuai yang pernah kita bahas pada tulisan saya beberapa hari yang lalu. Dalam penjabaran guru mulia, al Habib Abdullah bin Muhammad Baharun tentang bulan Zulhijah, bahwasannya bulan ini harus dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin. Yakni, mengisinya dengan bentuk-bentuk ibadah yang dianjurkan oleh para salafussholih.

Beliau juga menegaskan, bahwa ibadah yang dianjurkan pada sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah tidaklah terbatas dengan amaliyah ibadah mahdhoh (ibadah yang murni), akan tetapi cakupannya lebih luas dari hal itu. Diantaranya ialah saling mencintai dan memaafkan, bertaubat dan mengakui kesalahan di setiap keadaan dan waktu, dan lain sebagainya. Semua itu guna menjadi hamba yang hakiki dan menjadi pribadi yang lebih bermartabat serta mulia.

Maka dari itu pada hari raya Idul Adha ini, seyogyanya kita menanyakan diri kita kembali (muhasabah); Sudah sejauh manakah pengaruh ibadah yang telah kita jalankan di awal bulan Zulhijah? Apakah pribadi kita setelah melewati sepuluh hari pertama di bulan ini dengan segala ibadahnya semakin baik atau semakin buruk, atau bahkan semakin sombong dan angkuh terhadap Allah Swt. dan hamba-hamba-Nya? Atau dari kita ada yang merasa, bahwasanya setelah melewati sekian banyak ibadah yang dijalani di awal bulan ini, dirinya makin semangat ibadah. Hingga, salat lima waktu yang tadinya hanya dijadikan sekedar menjatuhkan kewajiban, sekarang menjadi hal yang paling ia tunggu-tunggu. Mungkin pertanyaan-pertanyaan ini harus kita tanyakan kepada diri kita sendiri. Sejauh mana keberhasilan kita untuk menjadi pribadi yang lebih berguna bagi agama dan masyarakat?

Kemudian, ingatlah! Allah Swt. menginginkan seorang hamba yang bahagia karena-Nya, karena taufik, rahmat, serta hidayah yang Allah berikan untuknya, bukan karena usaha dan jerih payahnya sendiri. Kita hanyalah seorang hamba yang tidak mungkin bisa mendapatkan segala kebaikan, kecuali dengan izin Allah Swt. Dengan itulah, hubungan seorang hamba dengan Tuhannya akan semakin romantis:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

\”Katakanlah (Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” [QS. Yunus: Ayat 58]

Oleh karena itu di hari yang bahagia ini khususnya, ibadah yang dianjurkan adalah \”berbahagia karena Allah Swt.\” karena taufik dan rahmat-Nya yang senantiasa meliputi kita. Wala haula wala quwwata illa billah. Taqabbalallahu minna wa minkum Ya Karim.

Bogor, 31 Juli 2020 M.

===============

/ Mutiara Islam / Tags:

Comments

No comment yet.

Tulis Komentar