X

Mengejar Bumi, Dikejar Langit

Mengejar Bumi, Dikejar Langit


Oleh : Mohamad Abdurro’uf (Mahasiwa magister Universitas al-Ahgaff, Yaman)


Dengan wabah ini, rasa-rasanya jika kita dihadapkan dengan semesta Tuhan, hanya status kehambaan kita saja yang tersisa. Selebihnya, oh kemana entah menguap. Meminjam puisi Gus Mus, kepala bergengsi yang terhormat ini, daya apa yang bisa terperi?

Sementara ini Corona bermain sebagai pengejar dan pelari. Kita sebagai objek yang dikejar. Peran yang kita mainkan adalah bersembunyi. Berusaha sebisa-bisanya dengan kodrat kemanusiaan untuk tidak tertangkap oleh pengejar. Dalam hal ini, ulama seluruh dunia nampaknya sudah kompak untuk menyerukan berdiam diri di rumah.

Hal yang akan kita bincangkan adalah lari dan kejar. Kejar, menurut KBBI, adalah proses lari buru-buru untuk mencapai sebuah objek. Cara melakukan pengejaran adalah dengan berlari. Sedangkan lari mengandung perbuatan untuk menghindar alias lari-dari, ataupun untuk menuju sebuah target alias lari-ke.

Praktiknya, Corona mengejar kita, dan kita berlari darinya. Kenapa asal mula Corona mengejar kita sehingga kita berlari? Ke manakah kita berlari? Baik, mari mulai berbincang.

Saya bukan berstatus ulama dan kalian diharuskan nurut. Katakanlah saya ini “menyewa” langit agar ia mau diwakili. Tapi, insya Allah, dengan kaedah ilmu yang bertanggung jawab.

Pertama, Allah punya orientasi untuk dikejar. Dia memposisikan dzat-Nya sebagai target apapun dan siapapun untuk kembali, untuk dikejar dan diraih. Bahkan iblis tetap berhak kembali. “Jika hambaku mendekat sejengkal, Aku mendekatinya sehasta. Jika hambaku berjalan mendatangi-Ku, Aku berlari mendatanginya.”

Jika orientasi ini diabaikan oleh hamba, maka untuk mengingatkannya harus ada semacam “anjing” yang meneriaki segerombolan kambing. Tugas anjing itu adalah meneriaki dan mengejari kambing gembala untuk masuk ke “tempat segalanya berasal”, yaitu rumah kambing.

Sekambing-kambingnya kambing, beliau tak pernah sedungu manusia. Kambing masih mau menurut teriakan anjing. Tapi manusia tidak mempan diingatkan dan diajak kembali. Jika demikian, menurut sunatullah, umat itu harus ditarik peredarannya. Namun untungnya kita ini umatnya Nabi Muhammad. “Kami tidak akan menurunkan azab selama engaku (Muhammad) di dalamnya.”

Imam Ar-Razi menceritakan kisah di balik ayat ini. Orang kafir menantang kebenaran Rasulullah. Kalau benar kita akan celaka, mana buktinya? Kita masih ada dan tidak musnah. Lalu turunlah ayat ini untuk menjawab bahwa pemusnahan tidak akan turun selama Nabi masih ada. Jasad Nabi masih menemani kita di bumi. Para pewarisnya juga menjaga kita. Paling tidak, dengan jaminan ini, kita tidak akan lebur sepenuhnya oleh Corona.

Kedua, jika kita memutuskan untuk lari dan sembunyi, untuk apa? Apa guna dan efeknya? Mari kita ingat kisah yang diceritakan Al-Quran dan hadis.

Nabi Yusuf pernah berada dalam satu situasi yang sangat deg-deg-ser bersama Zulaikha. Yusuf a.s. adalah pemuda yang luar biasa tampan, sedangkan Zulaikha adalah wanita cantik kaya raya. Jika mereka dalam satu kamar hanya berdua, bukankah ini adalah situasi yang sangat rumit?

Tapi begitu Yusuf a.s. lari dari kemaha-dahsyatan gejolak ini, Al-Quran langsung menandatangani SK kenabian. “Sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang suci.”

Imam Bukhari juga menceritakan kisah serupa. Salah seorang yang terjebak di gua sedang meminta pertolongan Allah dengan membawa amal salehnya. Amal itu berupa lari.

Pria itu dulu menaruh hati pada sepupunya yang sangat cantik. Tapi si perempuan menolak. Sampai akhirnya si perempuan sangat membutuhkan uang dalam keadaan darurat. Perempuan itu menemui sepupunya. Dengan uang seratus dua puluh dinar, perempuan itu merelakan diri dijamah sepupunya. Ketika sepupu sudah one-by-one dengan penjaga gawang, perempuan itu takut dan bilang, “Membuka cap segel tanpa hak adalah haram.”

Entah perasaan apa yang melanda si sepupu, dia langsung ingat Allah dan ketakutan. “Aku langsung berlari menjauhi sepupuku, padahal dia adalah perempuan yang paling aku inginkan.”

Kita perhatikan sekarang! Nabi Yusuf menjadi nabi atas judul lari dari Zulaikha. Si Sepupu diakui kesalehannya juga modal lari dari sepupunya. Mereka melarikan diri dari marabahaya menuju petunjuk Allah. Padahal mereka ingin dan bisa melakukannya.

Situai yang persis sedang kita hadapi sekarang. Kita dikejar-kejar sebuah bahaya. Nabi Yusuf dan Si Sepupu juga diambang bahaya. Kita semua lari dan bersembunyi, padahal kita sangat ingin untuk keluar rumah dan kita bisa melakukannya. Status kita semua sama: berlari dari marabahaya menuju petunjuk Allah.

Ya, walaupun hasilnya tak sama. Yusuf a.s. menjadi nabi, dan Si Sepupu menjadi wali. Sedangkan kita hanya menambah berat badan. Bagaimanapun, hasil dan pahala kan bukan kita panitianya. Tapi kita bisa mempanitiai perilaku dan sikap kita sendiri. Semoga dengan kita berdiam diri di rumah dengan niat lari dari bahaya agar ibadah kita terjaga, kita mendapat pahala mereka yang melarikan diri dari zina.

***

Eits! Hampir saja kesimpulan ini saya putuskan, tiba-tiba sisi ushul fikih dalam diri saya mencegah. Al-Qiyas ma’al fariq. Logikamu rancu sebab analoginya berjarak. Bagaimanapun, lari dari zina itu berat sekali! Sedangkan lari dari Corona kan tinggal diam di rumah. Jelas beda level, masa mau disamakan?!

Well, untuk sekarang, saya pura-pura saja tidak tahu kaedah ushul fikih biar kesimpulan ini benar. Dan, selamat menunaikan ibadah rebahan!


Referensi:
Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail, Shahih al-Bukhari, (Beirut: Dar Thauq an-Najah, 1422 H).
Ar-Razi, Fakhrudin, Mafatih al-Ghaib, (Beirut: Dar Ihya Turots Arabi, 1420 H).

==========

songkok.id: Admin Songkok.co.id