Blog

Langkah Dalam Menjalani Takdir

Langkah Dalam Menjalani Takdir


? Oleh : Ali Musthafa Siregar (Mahasiswa Tingkat Dua, Univ al Ahgaff)


Semua perkara manusia sudah ditakdirkan Allah Swt. di alam azali, yaitu alam qodim sebelum diciptakannya semesta ini.

Adapun takdir dibagi menjadi dua:

1. Takdir Mubram

Takdir mubram adalah takdir yang tidak bisa berubah lagi meskipun dengan do\’a, salat, sedekah, dan kebaikan-kebaikan lainnya. Takdir ini akan terlaksana pada waktu dan tempat yang Allah kehendaki. Hal ini berdasarkan hadis Qudsi :


يَا مُحَمَّدُ إِنِّي إِذَا قَضَيْتُ قَضَاءً فَإِنَّهُ لَا يُرَدُّ

\”Wahai Muhammad! Sesungguhnya jika Aku menetapkan suatu ketentuan, maka ketentuan itu tidak akan bisa diganggu gugat lagi.\”


2. Takdir Mu\’allaq

Takdir mu\’allaq adalah salah satu dari dua perkara yang ditakdirkan Allah terhadap manusia dengan kaitan pelaksanaan sesuatu. Seperti seseorang yang menyambung silaturahmi, berbuat baik kepada orang tua atau berdo\’a, maka ia akan berumur 100 tahun. Jika ia tidak melakukan kebaikan-kebaikan itu, maka dia hanya akan berumur 60 tahun.


Berdasarkan firman Allah Swt :

يَمْحُوا اللَّهُ مَا يَشَآءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِنْدَهُ ۥ ٓ أُمُّ الْكِتٰبِ

Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki. Dan di sisi-Nya terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuz).
(QS. Ar-Ra\’d: Ayat 39)


Ibnu Abbas menerangkan, bahwa maksud ayat di atas adalah takdir mu\’allaq. Selaras dengan hadis Nabi Muhammad saw :


لَا يَرُدُّ الْقَضَاءَ شَيْئٌ إِلَّا الدُّعَاء

\”Tidak ada yang dapat menolak ketetapan kecuali do\’a.\” (HR. At-Tirmidzi)


Setelah mengetahui bahwa kehidupan manusia sudah ditakdirkan Allah Swt, maka langkah apa yang mesti kita lakukan dalam menjalaninya ?

Jawab:

Kita tidak mengetahui prihal masa yang akan datang, bahkan setelah detik ini pun kita tidak tahu tahu apa yang akan terjadi. Maka yang mesti kita kerjakan adalah berusaha secara terus-menerus melaksanakan kewajiban yang diperintahkan Allah Swt.

Selanjutnya kita pun mesti berkeyakinan, dengan melaksanakan amal-amal saleh, maka itu adalah pertanda bahwa kita termasuk orang-orang yang Allah anugerahi kebahagian di akhirat. Begitu juga sebaliknya, orang yang tidak beramal saleh, maka ia akan sengsara di akhirat. Dengan keyakinan ini, kita pasti akan berusaha melaksanakannya.

Taqdir mu\’allaq ini pun bisa di analogikan seperti seseorang yang menanam bibit tanaman, dengan yang tidak menanam. Seseorang yang menanam, tidak akan bisa memastikan kelak akan memanen hasil tanamannya atau tidak, sebab adakala tanamannya mungkin rusak dan lain-lain. Namun dia tetap berkeyakinan, bila ia menanam, maka ia akan memanen. Begitupula bagi orang yang tidak menanam, bila ia tidak menanam, maka ia tidak akan memanen sama sekali.

Disini, bukan berarti dengan ketidak tahuan kita tentang apa yang akan terjadi, membuat kita tidak beramal saleh. Jadi, walaupun semua perkara kehidupan kita sudah ditakdirkan Allah Swt, kita harus berusaha melaksanakan amal-amal saleh dan berusaha meninggalkan larangan-larangan Allah sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad saw.

Pada akhirnya, semua hasilnya sesuai dengan takdir Allah Swt terhadap para hamba-Nya.

Semoga bermanfaat


? Asy-Syarhul Qowiim Fii Halli Alfaadz Asy-Shirootol Mustaqiim Hal. 252-280 karya Syaikh Abdulloh al Harori

===========

/ Mutiara Islam / Tags:

Comments

No comment yet.

Tulis Komentar