Blog

Ketika Syariat Menjadi Asing

Ketika Syariat Menjadi Asing


Oleh : Pandi Ahmad (Mahasiswa Tingkat Akhir, Universitas al-Ahgaff, Yaman)


Menyikapi masalah pandemik atau wabah Virus Corona (COVID-19) yang sekarang sudah menyebar di berbagai negara besar di dunia. Satu persatu negara besar merasakan ketakutan dan kekhawatiran atas wabah tersebut, termasuk Negara Indonesia kita tercinta.

Maka dari itu, pemerintah dari masing-masing negara memberikan arahan dan kebijakan terkait masalah ini, mulai dari memberikan cara untuk menanggulangi virus ini hingga meliburkan seluruh aktifitas yang berpotensi menyebarkan virus ini.

Tak luput pula, berbagai ulama dan para cendikiawan muslim pun saling mengeluarkan fatwa dan kalam-kalam yang terkait tentang pencegahan penyakit ini. Seperti anjuran agar melaksanakan salat di rumah, semata-mata sebagai bentuk kemaslahatan agar tidak berkumpul dengan orang banyak, sehingga potensi terjangkit virus ini menjadi lebih kecil. Maka dari itu para ulama memberikan himbauan agar melaksanakan salat berjamaah di rumah dengan cara memberikan arahan kepada setiap muazin untuk mengganti lafaz \”Hayya \’Alas Sholah\” dengan lafaz \”Sholluu fii Rihalikum/fii Baitikum\” yang artinya \”Salatlah kalian semua di rumah kalian.\”

Mungkin hal ini membuat sebagian orang bertanya-tanya dan merasa heran dengan adanya lafaz azan yang diubah, apakah memang boleh dalam syariat? Lalu kalau memang boleh, apa dalilnya?


Dikutip dari Kitab Sunan Abi Daud pada juz 2, halaman 291, Hadis no. 1061 :

1061 – حدثنا مؤمل بن هشام، حدثنا إسماعيل، عن أيوب، عن نافع، قال: نادى ابن عمر بالصلاة بضجنان، ثم نادى: أن صلوا في رحالكم، قال فيه: ثم حدث عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أنه كان يأمر المنادي، فينادي بالصلاة، ثم ينادي: \”أن صلوا في رحالكم\” في الليلة الباردة، وفي الليلة المطيرة في السفر.

\”Diriwayatkan dari Naafi\’ bahwasanya Ibnu Umar suatu ketika memanggil untuk salat dengan suara yang lantang seraya memanggil (menghimbau), \”Shollu fii Rihalikum\” (salatlah di rumah kalian). Kemudian beliau berkata sembari meriwayatkan hadis dari Nabi Muhammad Saw. bahwasanya beliau memerintah penyeru azan agar mengumandangkan panggilan salat. Kemudian muazin berkata, \”Salatlah di rumah kalian\” pada malam yang sangat dingin dan juga di setiap malam yang turun hujan lebat dalam keadaan safar.


Dikutip dari Kitab Sahih Bukhori pada juz 2, halaman 2, Hadis no. 901 :

901 – حدثنا مسدد قال: حدثنا إسماعيل، قال: أخبرني عبد الحميد، صاحب الزيادي، قال: حدثنا عبدالله بن الحارث ابن عم محمد بن سيرين، قال ابن عباس لمؤذنه في يوم مطير: إذا قلت أشهد أن محمدا رسول الله، فلا تقل حي على الصلاة، قل: (صلوُّا في بيوتكم)، فكأن الناس استنكروا، قال: فعله من هو خير مني، إن الجمعة عزمة وإني كرهت أن أخرجكم فتمشون في الطين والدحض.

\”Ibnu Abbas berkata kepada muazinnya pada hari turunnya hujan lebat : Ketika engkau selesai berkata \”Asyhadu Anna Muhammadan Rasululloh\”, jangan engkau mengatakan \”Hayya \’Alas Sholah\”, tapi katakanlah \”Shollu fii Buyutikum.\” Kemudian banyak orang yang mengingkari hal tersebut, lalu beliau berkata : hal tersebut telah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku (Nabi Muhammad Saw.), sesungguhnya Hari Jumat itu merupakan \”Azmah\” dan sesungguhnya aku benci (tidak menyukai) membuat kalian susah sehingga kalian berjalan di atas tanah yang becek\”.


Kesimpulan dari hadis pertama ialah ketika hujan lebat yang dapat membuat jalanan menjadi becek/berlumpur hingga susah untuk dilalui, Ibnu Umar memberikan arahan kepada muazin agar memerintahkan para umat muslim untuk salat di rumah masing-masing dan menjelaskan bahwasanya hal itu merupakan petunjuk dari Baginda Nabi Muhammad Saw.

Adapun hadis kedua yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas menjelaskan bagaimana cara penerapan pergantian lafaz tersebut. Inti dari kedua hadist tersebut menjelaskan bagaimana syariat islam mampu memberikan solusi di saat keadaan genting dan bisa mencari kemaslahatan serta sekaligus menolak berbagai macam kemadhorotan (hal berbahaya). Apalagi kemaslahatan tersebut terdapat nash (dalil) syar\’i-nya atau yang disebut dengan istilah \”المصلحة المعتبرة في الشرع\” sebagaimana yg dijelaskan oleh Syekh Musthofa Said al-Khin dalam kitabnya \”Atsarul Ikhtilaf fil Qowai\’dil Ushuliyah\”.

Mudah-mudahan tulisan ini bisa memberikan pengetahuan agar kita tidak cepat menghakimi sesuatu yang tidak kita ketahui. Ingat! Orang bijak ialah orang yang tidak cepat menghakimi serta bisa menyikapi suatu permasalahan tanpa masalah. Semoga bermanfaat.


والله أعلم بالصواب

======

/ Mutiara Islam / Tags:

Comments

No comment yet.

Tulis Komentar