X

Seputar Hukum Menjual Barang-barang Bekas Wakaf

Seputar Hukum Menjual Barang-barang Bekas Wakaf

━━━━━━━━━━━━━━━━


\’Syaikh Ahmad Salamah Al Qulyubi dalam kitabnya, berkata:


*قَوْلُهُ ( وَلَوِ انْهَدَمَ مَسْجِدٌ ) أَيْ وَتَعَذَّرَتِ الصَّلاَةُ فِيهِ لِخَرَابِ مَا حَوْلَهُ مَثَلاً قَوْلُهُ ( وَتَعَذَّرَتْ إِعَادَتُهُ ) أَيْ بِنَقْضِهِ ثُمَّ إِنْ رُجِيَ عَوْدُهُ حُفِظَ نَقْضُهُ وُجُوبًا وَلَوْ بِنَقْلِهِ إِلَى مَحِلٍّ آخَرَ إِنْ خِيْفَ عَلَيْهِ لَوْ بَقِيَ وَلِلْحَاكِمِ هَدْمُهُ وَنَقْلُ نَقْضِهِ إِلَى مَحِلٍّ أَمِيْنٍ إِنْ خِيفَ عَلَى أَخْذِهِ وَلَوْ لَمْ يُهْدَمْ فَإِنْ لَمْ يُرْجَ عَوْدُهُ بُنِيَ بِهِ مَسْجِدٌ آخَرُ لاَ نَحْوُ مَدْرَسَةٍ وَكَوْنُهُبِقُرْبِهِ أَوْلَى فَإِنْ تَعَذَّرَ الْمَسْجِدُ بُنِيَ بِهِ غَيْرُهُ وَأَمَّا غَلَّتُهُ الَّتِيْ لَيْسَتْ ِلأَرْبَابِ الْوَظَائِفِ وَحُصُرُهُ وَقَنَادِيْلُهُ فَكَنَقْضِهِ وَإِلاَّ فَهِيَ ِلأَرْبَابِهَا وَإِنْ تَعَذَّرَتْ لِعَدَمِ تَقْصِيرِهِمْ،* اهـ


\”Seandainya masjid akan roboh, dan bila sholat di dalamnya mengalami banyak kesulitan, karena takut kerobohan atau kejatuhan bangunan di sekelilingnya. Dan apabila sulit untuk membetulkannya kembali, Sebab sudah rusak parah. maka bila ada harapan masjid akan di bangun lagi, maka barang-barang bekas robohannya wajib di simpan walau dengan di pindah ke tempat yang aman. Itu apabila dikhawatirkan hilang bagi barang yang masih bisa di pakai.

\”Dan bagi seorang hakim (pengurus mesjid) diperbolehkan merobohkan masjid yang sudah rusak (jawa: bodol) dan memindahkan bekas-bekasnya di tempt yang aman, Jika memang ditakutkan nantinya ada yang sembrangan mengmbilnya walaupun masjid belum dirobohkan.

\”Kemudian, apabila (di tempat tersebut) tidak ada harapan akan dibangun masjid lagi (di hapus), maka sisa barang yang dapat dipakai tersebut disalurkan untuk kebutuhan pembangunan masjid yang lain. Tetapi jangan disalurkan untuk kebutuhan pembangunan Madrasah. Dan hendaknya pilih disumbangkan pada masjid yang paling dekat.

\”Dan apabila ada kendala untuk menyumbangkan (barang wakaf yang masih layak pakai) pada masjid lain, misal seperti karpet, lampu dan barang bekas lainnya, maka bisa diserahkan pada pihak pengurus masjid. Karena mereka pasti bisa memanfaatkan sebagaimana mestinya dan tidak akan sembrono. [١]


*وَسُئِلَ الْعَلاَّمَةُ الشَّيْخُ أَبُوْ بَكَرِ ابْنُ أَحْمَدَ الْخَطِيْبُ مُفْتِيْ تَرِيْم عَمَّا بَقِيَ فَتَاتُ النَّوْرَةِ وَالطِّيْنِ وَاْلأَخْشَابِ بَعْدَ الْهَدْمِ فَأَجَابَ بِجَوَابٍ طَوِيْلٍ مَالَ بِهِ إِلَى جَوَازِ بَيْعِهَا إِذَا لَمْ تَظْهَرْ حَاجَةٌ لَهَا لِلْمَسْجِدِ الْمَذْكُوْرِ وَلَوْ فِي الْمُسْتَقْبَلِ وَخِيْفَ ضِيَاعَهُ أَوْ أَخَذَ ظَالِمٌ أَوْ غَاصِبٌ لَهَا عَمَّا إِذَا لَمْ يُخْشَ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ فَتُحْفَظُ إِلَى آخِرِمَا أَطَالَ بِهِ رَحِمَ اللهُ،* اهـ


\”Syaikh abu bakar bin Ahmad yang merupakan khotib dan mufti di tarim, beliau ditanyai tentang menara dan batu bata, dan lain-lain setelah masjid di robohkan (untuk direnovasi).

\”Beliau menjawab dengan panjng lebar. Namun pada intinya adalah, beliau condong dengan diperbolehkannya menjual barang bekas masjid, ketika memang barang wakaf tersebut sudah tidak di perlukan untuk dipasang lagi, walau di kemudian hari.

\”Dan juga karena dihawatirkan barang wakaf tersebut akan sia-sia dan mubazir atau bisa jadi malah dicuri orang.

\”Namun beda halnya apabila tidak di kawatirkan hilang dan lain-lain. Jika demikian halnya, maka wajib menyimpan dan memelihara sampai saatnya Alloh memberikan rahmat hingga barang tersebut bisa bermanfaat lagi. [١]


*نَصُّ الْوَارِدِ فِيْ حُكْمِ تَجْدِيْدِ الْمَسْجِدِ لِلْعَلاَّمَةِ عَلَوِي ابْنِ عَبْدِ اللهِ ابْنِ حُسَيْنٍ – إلى أن قال- ثُمَّ اخْتَلَفُوْا فِيْ جَوَازِ بَيْعِهِ وَصَرْفِ ثَمَنِهِ فِيْ مِثْلِهِ وَإِنْ كَانَ مَسْجِدًا فَقَالَ الْمَالِكُ وَالشَّافِعِيُّ يَبْقَى عَلَى حَالِهِ وَلاَ يُبَاعُ وَقَالَ أَحْمَدُ يَجُوْزُ بَيْعُهُ وَصَرْفُ ثَمَنِهِ فِيْ مِثْلِهِ وَكَذَلِكَ فِي الْمَسْجِدِ إِذَا كَانَ لاَيُرْجَى عَوْدُهُ وَلَيْسَ عِنْدَ أَبِيْ حَنِيْفَةَ نَصٌّ فِيْهَا،* اهـ


\”Nash yang menjelaskan masalah memperbaharui masjid, Kitab karya syeh Alwi bin Abdulloh bin Husain ini, Sampai akhirnya ada qaul beliau yang mengatakan:

\”Kemudian para ulama berbeda pendapat dalam hal diperbolehkannya menjual barang bekas masjid dan membelanjakan hasilnya untuk hal yga semisal atau walau untuk masjid juga.

– Menurut Imam Syafi’i dan Imam Malik tidak boleh dijual barang-barang wakaf yang masih dapat digunakan, dan dapat (sebaiknya) diberikan kepada masjid lain yang membutuhkan.

– Menurut Imam Ahmad boleh dijual dan uang hasil penjualan digunakan untuk membeli barang yang sama (serupa). Jika memang nantinya tidak ada kemungkinan untuk dipasang lagi pada masjid tersebut.


– Dalam hal ini imam Abu hanifah; No komment. [٢]

___________________________
◉ Walhasil :


Dalam masalah hukum menjual barang wakaf bekas bongkaran masjid, terdapat khilaf (perbedaan pendapat antar ulama), yang pada intinya adalah, Ada yang membolehkan dan ada yang tidak membolehkannya,

– Menurut pendapat imam Syafi’i, imam Maliki dan Jumhur Syafi’iyah tidak boleh menjual barang wakaf bekas.

– Menurut pendapat Imam Ahmad dan imam Rofi’i, imam Nawawi yang mengikuti pendapat Imam Haromain hukumnya boleh dengan syarat, yakni:

①. Sudah tidak di butuhkan lagi kemanfaatanya,
②. Khawatir tersia siakan,
③. Khawatir dicuri orang atau dighasab.

Kemudian, Bagi anda yang membolehkannya, silahkan anda berniat \”Taqlid\” (mengikuti atau bersandar) pada pendapat para ulama yang memperbolehkannya.

Begitu juga bagi Anda yang tidak membolehkannya, maka silahkan anda berniyat \”Taqlid\” (mengikuti atau bersandar) pada pendapat para ulama yang tidak memperbolehkannya.

Sehingga perbuatan yang dilakukannya, baik itu membolehkannya ataupun tidak membolehkannya tidak tergolong sebagai hal yang bertentangan dengan hukum syara’.


Nabi Saw, bersabda:

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا ، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَىْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ

“Sesungguhnya agama itu mudah, dan sekali-kali tidaklah seseorang memperberat agama melainkan akan dikalahkan, dan (dalam beramal) hendaklah pertengahan (yaitu tidak melebihi dan tidak menganggap remeh), bergembiralah kalian, serta mohonlah pertolongan (didalam ketaatan kepada Allah) dengan amal-amal kalian pada waktu kalian bersemangat dan giat”.__


كذا فىے الكتاب :
[١]. حاشيتا قليوبي وعميرة – الجزء :٣ – ص : ١١٠
[٢]. مواهب الفضال – الجزء :١ – ص : ٢٢٨
ـــــ. وزائــدة من الكاتب اوالنّاشِر


– Untuk Referensi lainya silahkan bisa

dilihat dalam kitab :

ـــــ. فتح المعين- ج: ٣ – ص: ١٨١
ـــــ. اعانة الطالبين – ج: ٣ – ص: ٢١٤
ـــــ. فتح الوهاب – ج: ١ – ص: ٢٥٩
ـــــ. الموسوعۃ الفقهيۃ فے باب الوقف
ـــــ. وغيرها من الفقـــــہ الإسلام


\’Sekian
━━━━━━━━━━━━━━━━━
۞ واللـــہ اعـلم بالصــواب


❖ Terimakasih ❖
🔰 Sanggar islamik indonesia.
━━━━━━━━━━━━━━

songkok.id: Admin Songkok.co.id